Dedikasi?

Posted August 20, 2008 by kakikecil
Categories: Perjalanan

Kalau saja bukan atas nama pekerjaan, mustahil kaki kecilku menginjak perkebunan kelapa sawit. Dari areal baru yang masih menyisakan pokok-pokok kayu hutan, hamparan bibit yang baru ditanam, sampai ke hutan sawit yang rimbun dengan tandan buah yang mulai terlihat.

 

                               Semua nyaris sama…

 

Petak-petak kebun, kadang rapi kadang serampangan, seperti hamparan beberapa lapangan sepak bola di satu tempat. Jalan tanah yang menjalin tiap petakan, kering dan berdebu, tapi kerap pula becek dengan genangan air setelah hujan.

Barisan pokok kelapa sawit yang teratur seperti tentara berbaris dengan kepadatan 130-200 batang setiap hektare. Batang-batang yang gemuk kadang berlumut. Bau lembab di antara pokok kelapa sawit. Juntaian pelepah dan serangga kecil yang bebas beterbangan di antaranya. Sementara tanahnya tertutup rumput dan pelepah kering.

Di kebun dewasa, pucuk bunga hingga menjadi tandan calon buah mulai tampak. Di tempat lain, buah-buah mulai masak berwarna coklat kekuningan sampai kehitaman mengkilat.

Sampai ke pabrik, bau sawit yang diesktrasi menyisakan aroma wangi yang manis. Persis seperti bau karamel. Mengingatkanku pada bau wajan penjual gulali di sekolah dulu. Tapi berisiknya itu mengalahkan knalpot bajaj.

 

Ya, kalau saja bukan atas nama pekerjaan, mustahil kaki kecilku sampai ke Sumatera dan Kalimantan hanya sekedar untuk melihat kebun kelapa sawit. Ah, pekerjaan… yang menuntutku menggandakan intensitas.

 

Tapi… AKU MENIKMATI. Menikmati dengan puas kehidupan dalam intensitas berganda itu. Puas meski kerap masturbasi dengan melihat banyak kehidupan lain.

 

Sembunyi

Posted August 12, 2008 by kakikecil
Categories: Perjalanan

 

Aku rindu pada dedaunan, hehijauan, aroma  gunung yang sejuk, dan suara angin di antara pepohonan. Aku hanya terlalu lelah mengikuti kaki kecilku yang terus saja bersitegang dengan Jakarta yang makin tidak ramah dengan jiwaku.

Sampai akhirnya kutemukan beranda kecil tersembunyi. Medium yang tepat untuk mengendurkan frekuensi. Sekaligus untuk sedikit berkontemplasi tentu saja. Sedikiiiit saja..

Tidak terlalu jauh memang. Hanya saja terpencil di tengah bukit gundul bekas babatan tanaman teh tua di sekitar Puncak, yang kemudian menjadi kebun-kebun sayur organik dengan akses jalan tanah yang relatif sempit untuk dua mobil berpapasan.

Tak lebih 3 km dari akses jalan raya Puncak dengan rute sedikit berliku naik turun, papan nama dari logam bertulis Pinewood Resort and Spa terpantek permanen di samping gerbang utama. (Akhirnya… bunga, hijau daun, pohon pinus. Persis seperti dalam bayanganku.)

Bangunan utamanya diseting bergaya tradisional Eropa. Dominan dengan bata ekspose yang sebenarnya justru memperkuat kesan dingin di tengah atmosfer dataran tinggi yang sudah cukup sejuk.

Fasad bangunan, penataan taman, dan detail fasilitasnya konsisten dengan gaya rumah-rumah di pedesaan Belanda sana. Meski begitu, si pemilik tidak terlalu memaksakan konsep serupa dalam interior kamar yang justru dibuat variatif dengan beragam gaya.

Kamar yang kupilih misalnya, junior suite bergaya Timur Tengah, yang mereka namai Arabian Suite. Cukup besar dengan interior kayu daur ulang dari material kontainer dan lantai kayu yang hangat. Jendela-jendela kaca permanen memperluas jarak pandang di dalam kamar dengan hutan kecil di sekeliling resort.

Pusat kamar tentu saja bed kayu polos ukuran King berhiasan lilitan kelambu. Sementara serambi kamar terisi sofa bed besar berbalut permadani halus, meja makan bulat, plus open kitchen sederhana dengan perlengkapannya.

Yang aku suka, ukuran kamar mandi yang lebih besar dibandingkan biasanya. Lengkap dengan shower dan bath up bergaya jacuzzi.

 

 

Sejujurnya, ini bukan tempat pertama yang membuatku exciting. Hanya saja, sore itu semua terasa serba sempurna. Just perfect place for the exhausted mind: mine and friend(s) of my soul…

 

Teka-teki takdir

Posted July 20, 2008 by kakikecil
Categories: Jejak baru

Ini pertemuan pertama. Berseting sebuah kafe kopi pada satu malam di pusat perbelanjaan besar di bilangan Senayan.

Kami datang lebih dulu. Memesan tiga cangkir kopi untuk kami dan satu lagi untuknya. Kami menunggu. Yah, sekitar 15 menit.

Lalu dia datang. “Roberto,” katanya menyambut uluran tanganku memperkenalkan diri. Perawakannya tidak terlalu tinggi. Kurus sedang dengan kulit coklat. Efek guratan menguatkan usia yang matang. Mata yang tajam bernaung di bawah kelopak mata cekungnya.

Tidak ada basa-basi. Suasana cair begitu saja. Dia orang yang hangat. Buah dari perjalanan hidupnya yang panjang dan bertemu dengan banyak orang. Sangat banyak orang. Meski tak banyak senyum, sesekali tawanya terburai dengan tatapan mata yang tak mudah ditebak. Dalam dan misterius.

Tak hanya tatapan, kalimatnya tersusun penuh arti. Kami –aku dan dua kawanku- hanya saling berpandang, menyimak lalu mencernanya dengan bahasa pemahaman kami masing-masing.

Kadang aku mengangguk tanda setuju. Tak jarang, aku membalasnya dengan tatapan penuh pertanyaannya. Lalu, tersenyum masgul dengan perasaan yang justru makin gundah. “Kamu mengerti?” ujarnya padaku sesekali demi membaca mataku yang kosong.

Dia memang tidak pernah berkata dengan kalimat langsung pada topiknya. Tidak pernah menjawab pertanyaan langsung pada intinya. Tidak memberikan penjelasan langsung pada makna harfiahnya. Semuanya justru sangat filosofis.

Tapi dengan begitu, dia mengajarkanku untuk membaca. Membaca diriku sendiri. Membaca dan kemudian mencoba memahami takdirku. Ya, takdir.. dengan teka-tekinya tentu saja.

Tak lebih 1 jam pertemuan dengannya. Beberapa kalimatnya kini masih terekam jelas. Sederhana dan kadang terdengar klise, tapi menusuk buatku: ———–AKU DALAM PENCARIANKU.

Nduk, kalau mau naik kelas, semua orang harus menghadapi ujian. Kalau kamu mencari jalan pintas, itu hanya sementara. Suatu ketika nanti akan kembali seperti ini. Ujian itu tetap harus kamu hadapi.”

Tetapi rasanya aku tidak sanggup lagi melakukannya, kataku. “Karena itu bukan kamu. Jadilah dirimu sendiri.”

Malas.. dan malas

Posted July 17, 2008 by kakikecil
Categories: Jejak baru

Aku menemukan kehidupan ini di sekitar pesisir Bali beberapa bulan yang lalu. Laut yang luas, laut yang kaya.. Hmpfffff, almost have no comment setelah aku sendiri terlalu lelah mengomentari perjalanan negeri ini. (Hehehe). Seorang teman terkikik, “Itulah Indonesia.”

But still.. it is struggle. Seperti halnya aku mengalahkan kemalasanku mengupdate blog ini. Ga nyambung ya.

Duhhh.. rasanya sudah saatnya aku bertemu lagi dengan sawah yang hijau. Gunung dan bukit. Angin semilir. Hawa sejuk. Daun teh. Jajaran pinus. Atau.. bau pantai. Pasir putih. Riak ombak. Angin amis. Air kelapa.

DUDE, keluar kota yuk!

Bank emosi

Posted April 28, 2008 by kakikecil
Categories: Jejak baru

Nama sebenarnya Twelve Bar Blues. Tapi orang biasa sebut BBs [Bibis] saja. Aku juga tidak tahu persis apa kepanjangannya. Bar Blues, mestinya..

 

Terletak di bilangan Menteng, bangunannya tampak suram dengan arsitektur lawas. Sedikit lusuh dengan dominasi cat hijau tua yang kusam. Apalagi, sekarang terkamuflase gedung baru Menteng Plaza yang disulap menjadi hotel di bawah kendali Accor Group.

Dari jalan utama BBs makin tidak tampak. Tenggelam dalam keriuhan di sepanjang Jalan Sidoarjo yang juga menjadi salah satu happening spot di pusat Jakarta dengan puluhan gerobak penjaja makanan yang mangkal setiap malam.

Pun sejak Stadion Menteng, base camp Persija dulu, dirombak menjadi Taman Menteng dengan tata lampu dan beberapa fasilitas umum, termasuk lapangan olah raga dan rumah kaca tempat pameran.

 

BBs tenggelam dalam kegelapan malam ketika kehidupan di sekitarnya mulai bergeliat hingga dini hari berikutnya. Tapi tidak bagi orang-orang yang tahu betul [what kinda place BBs is].

 

Pertama menyambangi lima tahun lalu, bar berornamen kayu dengan atmosfer yang sangat ngeblues ini tidak banyak berubah. Ada di lantai 3, interior, dekorasi, atau tata lampu masih tetap sama. Bahkan luas ruangan yang bisa dibilang minimalis, dengan dua meja besar di samping kiri dan depan panggung, tiga meja di floor dan dua meja bar-side, termasuk tempat duduk ala tribune yang bisa menampung total sekitar 30 orang.

Mungkin sedikit berubah sound systemnya. Tapi itu pun tak tampak banyak. Atau mungkin aku –yang juga bukan seorang pengamat musik, sekedar pendengar setia saja- yang tidak peka. J

 

Yang pasti, setiap Sabtu malam BBs jarang sepi. Lengkingan Doddy Katamsi yang dulu sempat jadi frontman Elpamas hampir selalu bisa membuat kenangan lama terbangkitkan lewat koleksi classicrock. Sebut saja Led Zeppelin, Pink Floyd, Dream Theater, anything u mention.

 

Buatku sendiri, tempat ini seperti bank emosi tempatku mengkredit kembali romantisme yang kadang menipis saking sumpeknya aktivitas.

 

Termasuk, pada satu Sabtu malam yang lalu, menikmati petikan gitar Totok Tewel yang kebetulan datang malam itu dan ditembak untuk memainkan Since I’ve Been Loving You-nya Led Zeppelin. Tiba-tiba intensitas detak jantungku bertambah. Ada perasaan bergetar di antah-berantah bagian hatiku. (Berlebihan…)

Semua orang di ruangan yang sudah berkabut asap rokok dan aroma segala cocktail, spirit, bahkan sekedar beer dan coke, berdiri dengan gayanya yang terbius kenangannya masing-masing.

 

Sementara aku, duduk terkesiap menikmati gejolak serotonin dalam otakku yang meningkat lalu menimbulkan efek semacam euforia.

 

Hingga akhirnya Doddy mengucap salam pamit. Lalu semua bubar dengan tertib membawa pulang bekal romantisme dari kenangan masa lalu ke alam tidur masing-masing.

 

Aku dan seorang kawan yang menemaniku malam itu, berangkulan, mengecap endorphin, sambil berdendang kecil, “If I die tomorrow, I’d be all right because I believe that after we’re gone the spirit carries on… .”